PITUTUR HOEGENG BERTUTUR: HOEGENG ADALAH ROLE MODEL PEMIMPIN TANGGUH OLEH PESERTA DIDIK SESPIMTI POLRI DIKREG KE-33 Dr. DIDIK NOVI RAHMANTO, S.H., S.I.K., M.H.

admin 26 Feb 2024

banner-image

Leiden is lijden!” adalah pepatah kuno Belanda yang kurang lebih bermakna "Memimpin adalah Menderita". Jika diperhatikan dengan baik, kita akan menemukan bahwa ungkapan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Memimpin dan menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hadiah, melainkan tanggung jawab yang besar. Memimpin adalah sacrificing, bukan demanding. Pengorbanan adalah bagian integral dari memimpin. Contoh nyata dari konsep ini dapat ditemukan dalam sosok Jenderal Purnawirawan Hoegeng  Iman Santoso, Kapolri kelima yang menjunjung tinggi nilai kepemimpinan tanpa memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Bagi Jenderal Hoegeng , zona nyaman memimpin adalah berkorban. Maka itulah yang beliau lakukan untuk memberi tauladan bagi semua insan Bhayangkara. Bahkan di kehidupan bersama masyarakat umum, beliau mempunyai integritas dan komitmen yang sangat tegas untuk berada pada posisi sacrificing. Jika umumnya penguasa mendapatkan segala fasilitas privilese first class, itu semua bagi tak berlaku untuk Jenderal Hoegeng . Baginya, bukan fasilitas kelas atas yang mendorongnya menjadi pemimpin, sebab nyatanya, beliau justru memilih kehidupan sederhana, melayani masyarakat dengan turun ke lapangan, bekerja dengan nurani dan keikhlasan, serta menegakkan hukum dengan adil dan berkeadilan.

Pengorbanan seorang pemimpin tidak akan mendatangkan musibah, melainkan justru menghadirkan berkah bagi orang-orang yang dipimpinnya. Karenanya, kepemimpinan yang dilandasi tujuan untuk kaya, terkenal, berkuasa, atau tujuan-tujuan pribadi lainnya tidak menunjukkan prinsip dan value pemimpin yang sesungguhnya. Pemimpin yang rela berkorban akan dicintai oleh anak buahnya dan masyarakat. Sebabnya, dalam diri pemimpin yang demikian hanya ada kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara yang menjadi orientasi utamanya.

Menjadi pemimpin yang menderita atau rela berkorban tidaklah mudah, perlu kesiapan jiwa dan raga karena tidak semua orang siap dengan kondisi laku prihatin. Kebanyakan orang hanya mau keceh bandha donya atau hidup kaya raya berlimpah harta. Sifat Rela berkorban tentunya bisa dilakukan apabila urusan pribadinya sudah selesai, atau dengan melatih hati dengan kesabaran, kejujuran, keikhlasan, dan rasa syukur yang terus diasah. Jenderal Hoegeng berpesan, “Selesaikan tugasmu dengan kejujuran karena kita masih bisa makan dengan garam”. Hal ini menunjukkan bahwa kejujuran menjadi salah satu modal dasar untuk memimpin meskipun dengan jujur mungkin kita tidak dapat kemewahan ataupun kesenangan sebagaimana janji-janji kalau kita tidak jujur.

Pelajaran dari pemikiran Jenderal Purnawirawan Hoegeng Iman Santoso mengajarkan kita bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur oleh kekuasaan, tetapi pada kemampuan untuk berkorban dan melayani dengan tulus. Konsep ”Leiden is lijden" atau "Memimpin adalah Menderita" menjadi cerminan dari integritas, komitmen, dan kejujuran yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin.

Pemimpin sejati seperti Jenderal Purnawirawan Hoegeng  Iman Santoso mengajarkan bahwa kebahagiaan dan keberhasilan sejati terletak dalam pelayanan tanpa pamrih kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Berkorban bukanlah beban, tetapi justru membawa berkah bagi mereka yang dipimpin. Dalam dunia kepemimpinan yang sering dipenuhi oleh ambisi pribadi, contoh seperti Jenderal Hoegeng mengingatkan kita bahwa keadilan, kejujuran, dan kesederhanaan adalah pondasi yang kokoh untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Mari terus mengambil inspirasi dari pemimpin-pemimpin seperti Jenderal Purnawirawan Hoegeng  Iman Santoso, yang memahami bahwa memimpin bukanlah hak istimewa untuk diri mereka sendiri, melainkan sebuah tanggung jawab suci untuk kebaikan bersama.

 

-Fya